Jumat, 06 September 2013

Just a Simple Story


Diruang kelas yang sepi, Idhal hanya sendirian dikelas, dia memang selalu datang paling pagi setiap hari, dia melakukan hal itu karena dia selalu merasa tidak betah bila berada dirumahnya sendiri, disaat seperti ini biasanya dia hanya duduk dan bermain HP selayaknya remaja biasa. Idhal tidak berasal dari kalangan orang kaya, karena itu dia hanya memiliki HP yang biasa saja (namun berbasis Android). “hmmm” Idhal bergumam, dia merasa bosan, karena dia sendirian di kelasnya, jam menunjukan pukul 05.45 pagi (pantas aja sepi-__- pagi buta gitu-__-).

Idhal adalah seorang remaja cowok yang bertubuh kurus kecil, tingginya hanya sekitar 168cm, dan beratnya hanya 43kg, namun jika dibandingkan dengan cewek-cewek disekolahnya, dia bisa kelihatan tinggi, sekarang Idhal sudah kelas 3 SMA, dia bersekolah di sekolah yang lumayan bagus, hanya kurang terawat mungkin.

Jam menunjukan pukul 06.30 pagi. Seseorang memasuki pintu kelas, “ngeeeek” pintu berbunyi disaat Dyla memasuki ruangan kelas, “oi dhal..!!” sapa Dyla, “oi juga….” Idhal menjawab sapa Dyla dengan tidak bersemangat, “kenapa lu dhal? Ada masalah? Atau……lu mau BAB ye?” “ett kampret, gua Cuma lagi bosen aja… eh btw hari ini ada PR ora? Gua mau nyalin dong” “ada, PR B.Indonesia…yang disuruh jawab soal dari 1 sampe 10, nih salin gih” “okeeeeh” Idhal senyum senyum homo…

Mereka adalah sahabat dari kelas 11, sebenarnya anggota persahabatan mereka ada 4 orang, 2 orang lagi adalah Damar dan Edi. (mendingan saya jelasin sifat sifat dari mereka ber-empat).

1.       Faridhal Nugroho (Idhal)          = Bersifat konyol, apa adanya, rada sotoy(kata temen-temennya), gampang berteman dengan orang banyak.
2.       Adyla Fitriani (Dyla)                 = Cantik, suka bergaul dengan laki laki, pintar, kadang kalo udah bete bisa jadi ngeselin abis..
3.       Al Rahmat Damar (Damar)       = Meskipun namanya terdengar islami, namun sikapnya gak ada  islam islamnya-__- orangnya tinggi (sekitar 175cm) badan sedikit bungkuk dan punya kumis aduhai (pffffttt….)
4.       Edi Putra Fajar (Edi)                 = Berbadan gemuk, ganteng(kata dia sendiri), kadang kalau bicara sesuatu selalu kejadian (FYI : Edi bukan anak peramal)

“teeeeet” Bel masuk pelajaran pun berbunyi, ruangan kelas masih belum penuh (maklum, dikelas XII IPA 4 ini banyak banget yang suka ngaret, Damar juga termasuk…..). Pelajaran pertama adalah B.Indonesia, untuk hari ini kita disuruh bikin cerpen untuk 2 minggu kedepan, (skip…>>>) bel pulang pun berbunyi sekitar jam 14.00..

“Bro main dulu yuk” Idhal berkata pada Damar dan Edi, “Ayo aja dah Dhal, abisan gua bete dirumah” Damar membalas spontan, “gua juga ayo ayo aja” Edi menimpali, “Ajak Dyla gak neeh?” Idhal bertanya kepada dua teman ‘seperbijiannya’ itu, “ya ajak lah, pea” Damar dan Edi membalas serentak, “iya iya selow gausah ngegas ngapeh”…..”Dyl..!! sini lu..!!” Idhal berteriak memanggil temannya yang badai itu, “ada apa Dhal?” “lu mau ikut maen ora ama kita? Jalan jalan kemana kek gitu” “ayo daaah, nonton kayaknya enak nih, mumpung belom kesorean” “okeeeeh” mereka pun berangkat menuju sebuah mall yang memiliki bioskop didalamnya…

*Idhal terkenal suka nebeng sama temennya, bukan karena gak bisa bawa motor, tapi karena motor dirumahnya Idhal itu cuma satu, jadinya gantian sama Bokapnya. Bokapnya hanya seorang pegawai swasta, jadinya gajinya tidak terlalu cukup untuk membeli satu motor lagi untuk idhal.*

Ketiga teman Idhal masing masing membawa motor, Dyla dengan motor spacy-nya, Damar dengan motor beat-nya, dan Edi dengan motor “gede”-nya. Karena Dyla adalah seorang perempuan, jadinya motor Dyla dibawa oleh Idhal.

Setelah sampai di mall tersebut, mereka ber-empat langsung menuju ke bioskop yang terletak di lantai yang paling atas, “eh boy, mau pada nonton apaan nih?” Tanya Dyla dengan muka badai-nya, “terserah lu bae dah Dyl” Idhal langsung menimpali, Edi tiba tiba nyeletuk “horror aja yuk???” “waaah boleeh tuuuh, yaudah gua pesenin tiketnya” kata Dyla dengan semangat… Dyla emang pencinta film horror, terlebih lagi dia itu termasuk orang yang bisa melihat makhluk-makhluk ghaib (liat setan gitu maksudnyaaah) jadinya dia udah biasa sama hal begitu..

Selama Dyla membeli tiket bioskop, Idhal, Damar dan Edi hanya duduk melihat lihat orang yang baru masuk bioskop, “bro bro…liat tuh, ada cewek bening abis….” Damar ngomong dengan muka mesumnya, *plak* kepala Damar digeplak oleh Edi, “pea lu bro, ngomongnya pelan dikit lah, gaenak kalo diliatin sama orangnya…” (namanya juga laki-laki yaaaa…. -___-). Akhirnya Dyla pun kembali dari membeli tiket, “eh cowo-cowo homo, kita dapetnya jam setengah 5 nih, sekarang baru jam setengah 4, mau ngapain dulu?” “Gramed dulu aja yuk, siapa tau ada yang bisa dibeli” Idhal membalas dengan cepat pertanyaan Dyla. “yaudah yuk” Dyla,Damar,dan Edi membalas serentak….

Di dalam Gramedia mereka sengaja memisahkan diri, karena mereka semua memliki kesukaan yang berbeda terhadap sebuah bacaan..

Ø  Idhal              : Suka komik komik kartun
Ø  Damar           : Suka baca majalah bola
Ø  Edi                  : Suka membaca tentang psikologi
Ø  Dyla               : Suka baca novel cinta dan misteri



“Bzzzzt bzzzzt bzzzzt” ada sms masuk dari HP Idhal, ternyata itu Ghaida, isi smsnya “hai dhaaal, lagi apaa??” Idhal dengan cepat membalas sms dari orang yang special menurutnya itu… “lagi jalan jalan nih Da, kamu sendiri lagi apa?”.. *Ghaida berwajah cantik, manis, dan sudah lama disukai Idhal, namun sayangnya, mereka jarang sekali bertemu satu sama lain, karena selain beda kelas, mereka juga beda angkatan, karena Ghaida sekarang duduk di kelas 11, beda setahun dengan Idhal* “bzzzt bzzzt” ada sms masuk lagi dari Ghaida, isinya “oooh jalan jalan kemanaa? Aku lagi duduk aja nih, bosen mau ngapain” “biasa Da, nonton bareng sama sohib akuu, mendingan kamu mikirin aku aja biar gak bosen ehehehe” “ah kamu bisa aja Dhall” tiba tiba terdengar suara dari sahabat badainya “oi dhaaal, ayo buruan ke atas, udah jam 4.25 niiih, 5 menit lagi mulai film-nyaaa….!!!” “iya iyaaa”

Film horror itu pun dimulai, semua memperhatikan film tersebut kecuali Idhal, Idhal sibuk memperhatikan HP-nya, karena selama film berlangsung dia selalu sms-an dengan Ghaida. teman teman Idhal kadang suka kesal kalau si Idhal sudah sms-an dengan Ghaida, karena dia jadi tidak peduli dengan sekitarnya, tapi semakin lama akhirnya mereka jadi terbiasa terhadap sikap Idhal.

Film horror itu pun selesai pada pukul 18.30.. dan akhirnya mereka ber-empat pulang kerumah masing masing, dari mereka ber-empat, yang paling tidak mengerti jalan cerita film horror tsb adalah Idhal, karena dari awal sampai akhir dia terus sms-an dengan gebetannya…Ghaida…. Setelah sampai rumah, Idhal pun langsung makan, mandi, kemudian beranjak tidur, sesaat dia lihat HP-nya, ada satu sms masuk, “dari Ghaida” Idhal bergumam pelan, isinya “Good night ya dhaaal, seneng deh sms-an sama kamu” daaaaaaan…..Idhal pun gabisa tidur, dia senyum senyum sendiri selama kurang lebih 3 jam di kamarnya, untung aja tidak ada orang yang melihat si Idhal, kalau ada mungkin dia akan dikira orang gila yang seharusnya masuk RSJ, Idhal tertidur pada pukul 03.00 pagi……..

*Sekilas tentang Melliana Ghaida Putri (Ghaida), dia berasal dari kalangan orang yang cukup, cukup untuk membeli barang barang seperti : iPad, iPhone, iPod, iMac, Mobil Lamborghini dll. (jadi si Ghaida ini anak konglomerat sepertinya……) dia sekolah di sekolah yang sama dengan Idhal, dia berada di kelas XI Ipa 2 yang berada tepat di atas kelas XII Ipa 4(kelasnya Idhal). Tinggi tubuh Ghaida sekitar 164cm dan beratnya sekitar 49kg, rambutnya lurus sepinggul, bentuk tubuhnya lumayan baguslah untuk seorang anak 15 tahun, namun si Ghaida ini sangat baik hati kepada semua orang, plusssss….dia pandai bernyanyi, terlihat sebagai wanita idaman bagi semua pria.*

Esok harinya………

Idhal bangun pagi pagi sekali, sekitar jam 3.45 pagi, dia langsung mengecek HP-nya, ternyata……tidak ada sms….(sedih abis). “mungkin belom bangun” gumamnya… Idhal langsung mengambil handuknya dan bersiap untuk mandi..*Idhal memang sudah biasa mandi di pagi buta, meskipun tubuhnya kurus kecil, namun dia bisa menahan udara yang sangat dingin sekali* keluar dari kamar mandi dia pun langsung memakai seragam sekolahnya, dan mengambil sepotong roti yang sudah tersedia di meja makan, tidak lupa juga dia mengambil susu kalengan yang memang sudah menjadi favorit-nya, “maaah paah, Idhal pamit yaaak” “iyaaaa…”, Idhal pun langsung berangkat sekolah pada pukul  4.30. *karena rumahnya dekat dengan sekolah, Idhal berangkat sekolah dengan jalan kaki*

Saat sampai di depan gerbang, dia melihat seorang cewek yang baru turun dari mobil-nya….cewek itu adalah Ghaida, dengan cepat Idhal pun langsung menghampirinya, “kok tumben dianter da?” “iyanih, lagi males naik motor hehehe” “oooooh, yaudah bareng yuk masuknya da” “yuk dhal hehehe”…suasana sempat hening untuk beberapa saat, karena Ghaida dan Idhal sama sama tidak mengetahui apa yang harus mereka bicarakan, sampai di depan tangga…”aku naik dulu ya kak Idhaal…” “iya Ghaidaaaaaaa”. Idhal pun menuju kelas, seperti biasa…dia hanya sendirian di kelas ini, dia pun duduk di tempat duduknya dan mulai memainkan HP-nya….

Hari-harinya terus berlanjut seperti itu, malah terkadang si Idhal menjemput Ghaida untuk berangkat sekolah bareng, mereka semakin dekat dan dekat, jadi lebih sering sms-an, bahkan udah sering telponan, akhirnya pada suatu saat terbesit pikiran di hati Idhal “si Ghaida kan udah lama deket sama gua, tapi kenapa gak gua tembak juga ya? Yaudah deh besok pas pulang sekolah aja nembaknya” Idhal bergumam dalam hati.

Esoknya Idhal pun merencanakan aksinya, dia pun menunggu Ghaida di bawah tangga, “tap tap tap” terdengar bunyi langkah kaki menuruni tangga, lalu Idhal pun mulai mendekati orang yang menuruni tangga tersebut, “ini buat kamu da”…hening, lalu terdengar jawaban “lu kenapa broh?” *hening* “aeeeeeh lu ngapain disini Ediiiii!!!!!” “sori brooo, gua pake kamar mandi yang diatas, soalnya kamar mandi yang dibawah aer-nya mati ehehe” “untung bukan guru-___-“ “ahaha map yeee, yaudah gua balik duluan ye dhaaal, good luck” “yooo”…

“tap tap tap tap” Ghaida turun dari atas tangga, Idhal langsung mendatangi Ghaida dengan percaya diri, lalu berkata “da, aku udah lama sayang sama kamu, mau gak….kamu jadi pacar aku??” *hening beberapa saat* “emmm maaf kak, aku gabisa….” “o..h gitu………….” “gabisa nolak maksudnya ehehehehe…” “ ah kamu da nakut nakutin ajaa..” “haha maaaf ya kaaaak, kedepan bareng yuk” “ayuuk”

Hari hari Idhal pun semakin berwarna, terlebih lagi Idhal sudah sering membawa motor, mereka semakin sering jalan jalan dan nonton bioskop, namun pada suatu hari…… “uhuk uhuk…” “kamu kenapa da?” “enggak gapapa dhal, Cuma batuk biasa” “oooh okedeeeh, pulang yuk da” “iya”… sebenarnya Idhal melihat ada yang aneh dari sikap dan wajah Ghaida, mukanya terlihat pucat dan tidak bersemangat, namun Idhal tidak mau memikirkan hal yang aneh aneh, dia berfikir “mungkin lagi sakit biasa”..Idhal mengantar Ghaida sampai kerumahnya dan berkata “banyak banyak istirahat ya sayaang” “iyaa”..Idhal pun menarik gas motornya dan beranjak pulang.. setelah Idhal sudah hilang saat melewati belokan, Ghaida menangis…

Hari esoknya Ghaida tidak masuk sekolah, dia berkata kepada Idhal bahwa dia tidak enak badan, Ghaida berbohong, sebenarnya dia terkena penyakit TBC parah, dan sudah divonis dokter bahwa hidupnya tinggal empat bulan lagi, dia tidak tau apa yang harus dikatakannya kepada Idhal, Ghaida takut melukai perasaan Idhal. Dia merasa dirinya tidak berguna, yang bisa dia lakukan hanya menangis sambil menunggu hingga ajalnya tiba. Idhal tidak tau apapun mengenai penyakit Ghaida, dia kira Ghaida hanya kelelahan, sehingga tidak bisa masuk sekolah, karena setiap ditanya di sms, Ghaida hanya menjawab “Cuma kecapean doang kokk, nanti juga sembuuh :)”…sebenarnya Idhal menyadari bahwa ada kebohongan dibalik smsnya Ghaida, namun dia tidak mau mempercayai pemikirannya tersebut.

Ghaida mulai sering tidak masuk sekolah, kadang 2 kali seminggu, kadang 5 kali seminggu, kadang juga bisa seminggu full dia tidak masuk sekolah, dan sekarang dia sudah 15 hari gamasuk sekolah, bahkan kalau di-sms pun tak pernah dibalas, dan kalau di telpon tidak pernah diangkat... Karena penasaran, pada saat pulang sekolah, Idhal mengajak ketiga sahabatnya menuju kerumah Ghaida, mereka langsung memacu motor-nya menuju kerumah Ghaida, ternyata rumahnya…kosong, hanya ada satpam yang biasa menjaga rumah Ghaida, tanpa basa basi Idhal langsung bertanya pada satpam tersebut “permisi pak, saya mencari Ghaida, apakah dia ada dirumah?” “adik ini namanya Idhal ya?” “kok tau pak?” “ini ada surat buat Idhal, dari neng Ghaida”.. Idhal pun membaca surat itu dengan serius..

Damar, Edi dan Dyla mulai berkeringat, karena mereka mengetahui apa yang terjadi pada Ghaida, karena pada 2 bulan yang lalu, disaat Idhal sudah pulang duluan, Ghaida menghampiri ketiga teman Idhal, dan mengatakan bahwa dia terkena penyakit TBC parah, dan meminta ketiga temannya itu untuk tutup mulut selama Ghaida sakit, mereka pun menuruti permintaan Ghaida..

Isi dari surat tersebut kira kira seperti ini :



“Idhal sayaaang, maaf ya kalo aku udah jarang sms kamu, aku juga udah jarang telponan sama kamu. Aku ngelakuin ini supaya kamu bisa marah sama aku dan ngelupain aku..aku gak tau harus bilang apa ke kamu Dhal, sebenernya aku terkena penyakit TBC parah, yang sulit banget buat disembuhin, dokter bilang umur aku tinggal 3 bulan lagi ( surat ini dibuat tanggal 1 Agustus, sekarang tanggal 13 November ). Sebenernya aku itu jarang masuk karena sibuk berobat ke sana sini. Maaf ya kalo aku gak bilang apa apa ke kamu, tapi aku bilang ke sahabat kamu tentang penyakit aku, aku takut kalo kamu gak bisa nerima keadaan aku Dhal, tapi aku disini selalu berdoa untuk kesehatan dan kebahagiaan kamu Dhal…

I LOVE YOU SO MUCH FARIDHAL NUGROHO”
           
           
             Tanpa sadar airmata sudah mengalir di pipi Idhal, mukanya merah karena kesal, tangannya gemetar dan hampir membuat surat itu sobek, dengan nada membentak dia berkata “JADI LU SEMUA UDAH TAU TENTANG HAL INI? DAN LU PADA GAK MAU NGASIH TAU GUA YANG SEBENARNYA? GUA GAK NYANGKA ORANG ORANG KAYA LU BISA JADI SAHABAT GUA, ANJING LU SEMUA, BANGSAAAAT!!!” Idhal pun pergi meninggalkan ketiga temannya yang terdiam membatu, dia langsung menyalakan mesin motornya dan langsung melaju ke arah yang tidak jelas, dia mengebut dan tidak peduli dengan orang orang disekitarnya, dia sempat di-umpat oleh orang orang dijalanan karena menyetir dengan seenaknya. Saat ini kecepatan motornya mencapai 90km/jam, dia sudah tidak peduli lagi dengan dirinya. Sampai pada sebuah tikungan tajam, Idhal tidak sempat mengerem motornya, sehingga dia lepas kendali dan *BRAAAKKK* motornya habis dihantam truk pick-up, Idhal mental sejauh 15 meter dari tempat tabrakan, disana Idhal hanya diam……tak bergerak…….sama sekali……..

Warga sekitar yang melihat kejadian tersebut langsung membawa Idhal ke RS terdekat. Keaadan Idhal sangat memprihatinkan, darah berceceran kemana mana, tulang kakinya yang sebelah kanan patah, dan kondisi motornya sudah tidak bisa diungkapkan dengan kata kata. Setelah sampai di RS, Idhal pun langsung diberikan perawatan.

Idhal terbangun dan melihat orang tua serta ketiga sahabatnya yang ada disekitar kasur rumah sakit yang ia tiduri, “kok….gua.masih.hidup?” “Alhamdulillah dhal, untung Cuma kaki-lu yang parah lukanya, harusnya lu bersyukur” kata Edi menasihati. “tau lu dhal” kata Damar yang cuma jadi pengikut. Orang tua dan Dyla hanya menangis dan tidak mampu berbicara apapun, mereka senang bahwa Idhal sudah sadar. “maaf ya buk, pak, dan sohib sohib gue” “iya dhal”……………

…..Setelah merasa cukup sehat, dokter pun membolehkan Idhal untuk pulang, namun karena tidak bisa berjalan dengan sempurna, tubuh Idhal harus dibantu dengan tongkat agar kakinya dapat berjalan lagi…..Hati Idhal masih ada yang mengganjal, yaitu tentang meninggalnya Ghaida yang bahkan tidak diketahuinya, dia sempat membenci dirinya karena tidak tau akan hal tersebut. Tapi lama lama dia berfikir, “apalah gunanya bersedih pada masa lalu, apa yang penting adalah hari ini dan besok, tidak perlu menangisi apa yang sudah terjadi”.. dia selalu berkata itu setiap dia merasa sedih.

Hari terus barganti dan Idhal pun sudah bersikap seperti biasa lagi, dia jadi lebih sering bermain dengan sahabat sahabatnya, kaki-nya pun sudah kembali seperti semula, hanya ada bekas goresan goresan kecil yang mulai memudar, sama seperti kenangannya bersama Ghaida, sudah mulai pudar.

Namun pada suatu hari, saat Idhal sedang membeli minum di kantin….. “eh mas Idhal” <<<mba-mba kantin… “eh iya ada apa mbak?” “gini, tadi ada anak perempuan nyariin mas Idhal” “ooh siapa namanyaa?” “waduh aku lupa mas, gak sempet nanyain namanya hehehe” “hahha yaudah gapapa mba”…..sempat terbesit di pikiran Idhal, siapa sebenarnya perempuan yang nyariin dia, “ah mungkin fans biasa hahaha” kata dirinya menghibur. Dia pun duduk di tempat duduk di pojok kantin, tempat yang dulu menjadi favorit Idhal dan Ghaida, dan terbayang suasana dimana mereka masih sering bersama, saling mengerti satu sama lain, saling percaya, saling menyayangi… “ah elah” Idhal langsung menyingkirkan pikirannya tersebut.

Sekitar lima menit, Idhal hanya duduk diam sambil menyeruput es tehnya yang sudah dipesan sejak tadi, tak lupa juga dia memainkan HP-nya, karena hanya HP-nya lah temannya saat dia sendirian, Idhal merasa ada seseorang datang menuju ke tempatnya duduk, tapi dia tidak mau memperhatikan orang tersebut, orang itu pun duduk disebelah Idhal, dan mulai menyenggol nyenggol badan Idhal dengan badannya, dan dia juga coba menggelitik Idhal, namun orang tersebut tetap tidak diperhatikan, lalu orang tersebut pun berbicara “jahat banget sih, aku tuh bela belain kesini cuma buat ketemu kamu Dhal”….”eh suara itu….” Idhal menyadari sesuatu, lalu… “HAAAAIIIIII….!!!” Ghaida langsung memeluk Idhal yang masih bingung… “lo….loo setan ya?” “ih enak aja, ini beneran aku koook” “kok bisa da?” “jadi gini dhal, waktu kamu kerumah aku, sebenernya aku lagi berobat di Singapur, soalnya ada yang bilang kalo orang sana ada yang bisa sembuhin penyakit aku, gitu….” “tapi kok satpam kamu gak bilang apa apa sama aku?” “dia suka ketinggalan informasi gitu dhaaal, orangnya rada lemot juga soalnya hahaha” “oh gitu-___- haa haa haa….” “ih ketawanya maksa” “bodo :p” “dih jahat” “biarin weeeek :p”

Sejak saat itu mereka pun mesra lagi seperti sebelumnya, bahkan lebih mesra dari sebelumnya, mereka berharap mudah mudahan semua masalah yang bereka hadapi dapat terselesaikan dengan mudah, aamiin…

Cinta adalah hal yang rumit bagi sebagian orang, namun jika menuruti apa kata hati anda, maka orang yang tepat akan menjadi pendamping anda sehidup semati. Jangan pernah menyerah pada masalah hidup, karena tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan, intinya harus saling percaya dan saling memberikan yang terbaik satu sama lainnya, sehingga masalah akan terselesaikan dengan mudah……….














Just a Simple Story is not as simple as I tought..